INILAH Paris. Sebuah nama Ibu Kota negara, yang telah berhasil menahbiskan dirinya sebagai salah satu permukiman terindah di dunia dengan segala situs wisata yang sudah melegenda. Bahkan, sebuah pemakaman sekalipun, telah berhasil ditransformasikan melewati batas pengertian tradisionalnya, menjadi situs wisata yang digandrungi banyak wisatawan dan warga Prancis sendiri.
Pemakaman yang dimaksud, tidak lain adalah Pere Lachaise, yang terletak di Arrondissement 20, Paris. Di sini puluhan pesohor kelas dunia dengan latar belakang yang beragam disemayamkan. Dari Georges Eug?ne Haussmann, ahli tata kota Prancis yang berhasil mentransformasikan Kota Paris menjadi salah satu kota terindah di dunia, hingga Auguste Comte, filsuf modern Prancis yang menggoyang pemikiran dunia dengan gagasannya mengenai positivisme. Kedua jasadnya dibaringkan di pemakaman yang luasnya mencapai 48 hektare ini.
Jim Morrison, legendaris rock yang lahir pada tahun 1943 di Amerika, dan wafat tahun 1971 di Kota Paris, merupakan satu di antara puluhan pesohor dunia yang berasal dari luar Prancis yang dimakamkan di Pere Lachaise, sebuah pemakaman yang berusia lebih dari dua abad tersebut. Ahmet Kaya, musisi dan penulis puisi asal Turki, Oscar Wilde, penulis asal Irlandia, Max Ernst, seniman surealis asal Jerman, merupakan sederet nama artis asal luar Prancis lainnya yang jasadnya dibaringkan di Pere Lachaise.
Keindahan makam Pere Lachaise tampak dari segala lini, baik ditilik dari tata ruang, keindahan bangunan, bahkan jenis material yang digunakan di kompleks pemakaman. Inilah pemakaman yang berhasil melepaskan dirinya dari sosok wilayah yang angker, sepi, dan berada di pojok desa.
Toussaint, Hari Ziarah Warga Prancis
Suasana pemakaman Pere Lachaise saat hari ziarah Toussaint, tiap tanggal 1 November. Saat hari Toussaint, para pengunjung makam, baik warga lokal maupun turis asing, berbondong-bondong menuju makam kerabat hingga tokoh terkenal yang banyak dimakamkan di tempat itu.
Warga Prancis juga punya tradisi berziarah ke makam leluhur atau orang-orang yang disayanginya, persis seperti tradisi masyarakat Indonesia berziarah sebelum memasuki bulan Ramadan. Keramaian Toko Bunga J Poulain & Fils pada Jumat, 1 November lalu, tampak melebihi dari hari-hari biasanya. Sepanjang siang hingga sore hari, dari Jumat hingga Minggu, toko bunga itu dipenuhi para calon pembeli.
Letaknya yang strategis, persis di depan gerbang utama Pere Lachaise, salah satu makam yang paling tersohor di muka bumi, di kawasan Paris 20, membuatnya makin dipenuhi pengunjung. Bagi warga Prancis, tanggal 1 November memang punya makna tersendiri. Tanggal tersebut menjadi tanggal “wajib” bagi warga Prancis untuk melakukan ziarah kubur.
Peristiwa kultural tahunan ini dikenal sebagai hari Toussaint, adalah hari untuk mengenang leluhur mereka. Leluhur yang jasadnya dibaringkan di pemakaman-pemakaman yang tersebar di seluruh pelosok negeri.
Sore itu, di dalam makam Pere Lachaise, tampak dua insan sedang membersihkan permukaan makam yang terletak persis di tepi jalan utama makam. Sementara, pengunjung yang lain terus membanjiri kompleks pemakaman yang dibangun pada tahun 1804 atas titah sang Kaisar Napoleon Bonaparte. Mereka dengan khusyuk melakukan ritual ziarah pada umumnya, menabur bunga dan berkhidmat di depan makam. Gambaran di atas, tampak serupa dengan tradisi di Tanah Air.
Pada bulan Syaban (dalam kalender Hijriah) atau bulan Ruwah(dalam kalender Jawa), masyarakat berbondong-bondong berziarah untuk mendoakan orang tua dan sanak keluarga yang telah meninggal. Tradisi yang berakar kuat pada sejak zaman Hindu ini biasa dikenal dengan sebutan Ruwahan. Peristiwa ini biasa terjadi 10 hari menjelang umat Islam di Tanah Air memasuki bulan puasa.
Persis seperti apa yang dilakukan warga Paris di Pere Lacheise di atas, warga di Tanah Air pun biasa menabur bunga, mencabut rumput ilalang dan berdoa untuk para arwah nenek moyang mereka. Jika tradisi Ruwahan di Tanah Air merupakan tradisi eklektik budaya pra-Islam dan Islam, toussaint adalah sebuah tradisi yang berakar kuat pada tradisi Katolik, sejak abad ke-7.
Toussaint berasal dari dua suku kata bahasa Prancis, Tous (semua) dan Saint (orang suci). Dalam bahasa Inggris, tradisi ini dikenal dengan sebutan All Saints’ Day (hari untuk semua orang suci). Perayaan ini pada awalnya memang ditujukan untuk mengenang orang suci Katolik, baik yang dikenal maupun yang luput dari catatan sejarah.
Berbeda dengan tradisi Ruwahan yang senantiasa dilakukan pada bulan Syaban atau Ruwah, Toussaint, dirayakan setiap tanggal 1 November, persis sehari setelah masyarakat Eropa bersama warga belahan dunia lainnya merayakan Halloween, yang jatuh setiap tanggal 31 Oktober. Toussaint memiliki kedudukan yang cukup sentral, sebagaimana peringatan hari besar agama Kristen yang lain. Hal ini ditandai dengan libur nasional di negara Prancis setiap tanggal 1 November.
“Mas, saya datang dan membawa bunga ini untuk Mas,” demikian pesan lirih yang keluar dari mulut Stephan, pria asal Jawa Timur, di depan makam sahabatnya, Valery Selancy, yang meninggal 2 bulan lalu.
Peristiwa yang perih dan mengharukan ini masih terjadi di tempat yang sama, yaitu Pere Lachaise. Makam ini dikenal sebagai pembaringan paripurna. Makam sekaligus juga sebagai tempat segala rasa haru dan air mata ditumpahkan, oleh para kerabat dan sahabat yang masih diberi kesempatan untuk menghirup udara bumi dalam sisa usia mereka. Di wilayah inilah sebuah pemakaman menemukan pesan universalnya.
Makam sebagai bagian dari drama kemanusiaan sejak zaman Adam, merupakan tempat yang sepi, menghanyutkan, dan tempat segala kerinduan, rasa haru, bahkan penyesalan bercampur aduk. “Mas sudah ya, saya pulang,” pamit Stephan, persis di depan pembaringan paripurna Valery.
Pere Lachaise pun kembali sunyi senyap bersama datangnya malam musim gugur. Adapun yang tersisa adalah pepohonan nan telanjang karena ditinggal dedaunannya, yang tidak kuasa menahan terpaan musim gugur. Persis seperti manusia yang mesti menghadapi takdir absolutnya, menutup mata, mati, rontok dimakan usia.
Pemakaman yang dimaksud, tidak lain adalah Pere Lachaise, yang terletak di Arrondissement 20, Paris. Di sini puluhan pesohor kelas dunia dengan latar belakang yang beragam disemayamkan. Dari Georges Eug?ne Haussmann, ahli tata kota Prancis yang berhasil mentransformasikan Kota Paris menjadi salah satu kota terindah di dunia, hingga Auguste Comte, filsuf modern Prancis yang menggoyang pemikiran dunia dengan gagasannya mengenai positivisme. Kedua jasadnya dibaringkan di pemakaman yang luasnya mencapai 48 hektare ini.
Jim Morrison, legendaris rock yang lahir pada tahun 1943 di Amerika, dan wafat tahun 1971 di Kota Paris, merupakan satu di antara puluhan pesohor dunia yang berasal dari luar Prancis yang dimakamkan di Pere Lachaise, sebuah pemakaman yang berusia lebih dari dua abad tersebut. Ahmet Kaya, musisi dan penulis puisi asal Turki, Oscar Wilde, penulis asal Irlandia, Max Ernst, seniman surealis asal Jerman, merupakan sederet nama artis asal luar Prancis lainnya yang jasadnya dibaringkan di Pere Lachaise.
Keindahan makam Pere Lachaise tampak dari segala lini, baik ditilik dari tata ruang, keindahan bangunan, bahkan jenis material yang digunakan di kompleks pemakaman. Inilah pemakaman yang berhasil melepaskan dirinya dari sosok wilayah yang angker, sepi, dan berada di pojok desa.
Toussaint, Hari Ziarah Warga Prancis
Suasana pemakaman Pere Lachaise saat hari ziarah Toussaint, tiap tanggal 1 November. Saat hari Toussaint, para pengunjung makam, baik warga lokal maupun turis asing, berbondong-bondong menuju makam kerabat hingga tokoh terkenal yang banyak dimakamkan di tempat itu.
Warga Prancis juga punya tradisi berziarah ke makam leluhur atau orang-orang yang disayanginya, persis seperti tradisi masyarakat Indonesia berziarah sebelum memasuki bulan Ramadan. Keramaian Toko Bunga J Poulain & Fils pada Jumat, 1 November lalu, tampak melebihi dari hari-hari biasanya. Sepanjang siang hingga sore hari, dari Jumat hingga Minggu, toko bunga itu dipenuhi para calon pembeli.
Letaknya yang strategis, persis di depan gerbang utama Pere Lachaise, salah satu makam yang paling tersohor di muka bumi, di kawasan Paris 20, membuatnya makin dipenuhi pengunjung. Bagi warga Prancis, tanggal 1 November memang punya makna tersendiri. Tanggal tersebut menjadi tanggal “wajib” bagi warga Prancis untuk melakukan ziarah kubur.
Peristiwa kultural tahunan ini dikenal sebagai hari Toussaint, adalah hari untuk mengenang leluhur mereka. Leluhur yang jasadnya dibaringkan di pemakaman-pemakaman yang tersebar di seluruh pelosok negeri.
Sore itu, di dalam makam Pere Lachaise, tampak dua insan sedang membersihkan permukaan makam yang terletak persis di tepi jalan utama makam. Sementara, pengunjung yang lain terus membanjiri kompleks pemakaman yang dibangun pada tahun 1804 atas titah sang Kaisar Napoleon Bonaparte. Mereka dengan khusyuk melakukan ritual ziarah pada umumnya, menabur bunga dan berkhidmat di depan makam. Gambaran di atas, tampak serupa dengan tradisi di Tanah Air.
Pada bulan Syaban (dalam kalender Hijriah) atau bulan Ruwah(dalam kalender Jawa), masyarakat berbondong-bondong berziarah untuk mendoakan orang tua dan sanak keluarga yang telah meninggal. Tradisi yang berakar kuat pada sejak zaman Hindu ini biasa dikenal dengan sebutan Ruwahan. Peristiwa ini biasa terjadi 10 hari menjelang umat Islam di Tanah Air memasuki bulan puasa.
Persis seperti apa yang dilakukan warga Paris di Pere Lacheise di atas, warga di Tanah Air pun biasa menabur bunga, mencabut rumput ilalang dan berdoa untuk para arwah nenek moyang mereka. Jika tradisi Ruwahan di Tanah Air merupakan tradisi eklektik budaya pra-Islam dan Islam, toussaint adalah sebuah tradisi yang berakar kuat pada tradisi Katolik, sejak abad ke-7.
Toussaint berasal dari dua suku kata bahasa Prancis, Tous (semua) dan Saint (orang suci). Dalam bahasa Inggris, tradisi ini dikenal dengan sebutan All Saints’ Day (hari untuk semua orang suci). Perayaan ini pada awalnya memang ditujukan untuk mengenang orang suci Katolik, baik yang dikenal maupun yang luput dari catatan sejarah.
Berbeda dengan tradisi Ruwahan yang senantiasa dilakukan pada bulan Syaban atau Ruwah, Toussaint, dirayakan setiap tanggal 1 November, persis sehari setelah masyarakat Eropa bersama warga belahan dunia lainnya merayakan Halloween, yang jatuh setiap tanggal 31 Oktober. Toussaint memiliki kedudukan yang cukup sentral, sebagaimana peringatan hari besar agama Kristen yang lain. Hal ini ditandai dengan libur nasional di negara Prancis setiap tanggal 1 November.
“Mas, saya datang dan membawa bunga ini untuk Mas,” demikian pesan lirih yang keluar dari mulut Stephan, pria asal Jawa Timur, di depan makam sahabatnya, Valery Selancy, yang meninggal 2 bulan lalu.
Peristiwa yang perih dan mengharukan ini masih terjadi di tempat yang sama, yaitu Pere Lachaise. Makam ini dikenal sebagai pembaringan paripurna. Makam sekaligus juga sebagai tempat segala rasa haru dan air mata ditumpahkan, oleh para kerabat dan sahabat yang masih diberi kesempatan untuk menghirup udara bumi dalam sisa usia mereka. Di wilayah inilah sebuah pemakaman menemukan pesan universalnya.
Makam sebagai bagian dari drama kemanusiaan sejak zaman Adam, merupakan tempat yang sepi, menghanyutkan, dan tempat segala kerinduan, rasa haru, bahkan penyesalan bercampur aduk. “Mas sudah ya, saya pulang,” pamit Stephan, persis di depan pembaringan paripurna Valery.
Pere Lachaise pun kembali sunyi senyap bersama datangnya malam musim gugur. Adapun yang tersisa adalah pepohonan nan telanjang karena ditinggal dedaunannya, yang tidak kuasa menahan terpaan musim gugur. Persis seperti manusia yang mesti menghadapi takdir absolutnya, menutup mata, mati, rontok dimakan usia.
