PARIS - European Space Agency (ESA) mengumumkan pengembangan robot yang menyerupai perilaku dan kemampuan seekor reptil. Robot yang menyerupai gecko (tokek) ini memiliki kemampuan bergerak di atas permukaan yang tidak bisa dijangkau oleh robot, bahkan manusia.
Mesin pintar juga dapat dengan mudah memanjat dindin secara vertikal mirip tokek sungguhan. Kemampuan menempel seperti tokek sungguhan ini berkat teknologi yang ditempatkan di bagian kaki robot yang berjumlah enam buah.
Dilansir Softpedia, robot yang diciptakan ini meniru kaki yang dimiliki tokek. Tokek di alam bebas, memiliki kemampuan berlari di atas air dan menempel pada kaca, bahkan ketika berada dalam posisi terbalik atau menempel di langit.
Dalam sebuah studi, tim dari ESA memperlihatkan bagaimana robot bisa berfungsi dalam ruangan gravitasi renda atau microgravity. Dengan demikian, robot ini bisa bekerja ketika berada di stasiun luar angkasa (ISS) atau pada pesawat luar angkasa.
Ketika teknologi ini sudah disempurnakan, robot diharapkan bisa tampil sebagai asisten yang membantu astronot. Selain itu, robot juga bisa memperbaki segala kerusakan yang mungkin terjadi selama perjalanan panjang luar angkasa.
Mesin ini dikembangkan oleh ilmuwan ESA yang bekerja dengan kolega dari Simon Fraser University (SFU) di Canada. "Pendekatan ini merupakan sebuah contoh dari 'biomimicry', mengambil solusi teknik dari alam," kata peneliti SFU.
Mesin pintar juga dapat dengan mudah memanjat dindin secara vertikal mirip tokek sungguhan. Kemampuan menempel seperti tokek sungguhan ini berkat teknologi yang ditempatkan di bagian kaki robot yang berjumlah enam buah.
Dilansir Softpedia, robot yang diciptakan ini meniru kaki yang dimiliki tokek. Tokek di alam bebas, memiliki kemampuan berlari di atas air dan menempel pada kaca, bahkan ketika berada dalam posisi terbalik atau menempel di langit.
Dalam sebuah studi, tim dari ESA memperlihatkan bagaimana robot bisa berfungsi dalam ruangan gravitasi renda atau microgravity. Dengan demikian, robot ini bisa bekerja ketika berada di stasiun luar angkasa (ISS) atau pada pesawat luar angkasa.
Ketika teknologi ini sudah disempurnakan, robot diharapkan bisa tampil sebagai asisten yang membantu astronot. Selain itu, robot juga bisa memperbaki segala kerusakan yang mungkin terjadi selama perjalanan panjang luar angkasa.
Mesin ini dikembangkan oleh ilmuwan ESA yang bekerja dengan kolega dari Simon Fraser University (SFU) di Canada. "Pendekatan ini merupakan sebuah contoh dari 'biomimicry', mengambil solusi teknik dari alam," kata peneliti SFU.
